Misteri Gurun Sahara

Sekitar dua tahun lalu aku membaca kisah petualangan si Monthy Phyton Michael Palin tentang upayanya menaklukkan gurun Sahara. Cerita apik yang dikemas dengan bahasa ringan dan menghibur mampu menerbangkan angan-anganku seolah-olah ikut secara langsung kisah petualangan serunya.

Kisah tersebut sangat begitu terkesan sekali bagiku. Dalam salah satu kisahnya, di bertutur, pada tanggal 9 Sepetember 2001 di saat dunia terhentak kaget dengan berita pemboman gedung Twin Tower di New York, si Michael Palin tengah berada di bawah garangnya matahari Sahara di salah satu sudut benua Afrika sedang ber-asyik masyuk dengan caravannya, terseok-seok menyelusuri Sahara. Gambar-gambar yang begitu eksotk tentang padang pasir dan unta-unta yang gibuk-ginuk, maupun adegan bercengkrama dengan penduduk lokal dan orang-orang Bedouin.

Si Monty Phyon tidak sungkan-sungkan makan roti yang dimasak pasir oleh orang-orang gurun dengan sangat cekatan, ataupun menikmati teh kental khas gurun, dan juga savouring potong demi potong daging domba panggang yang masih mengebul dengan menggunakan tangannya yang masih sangat canggung. Duuuuuuuh nikmatnya…!! Saking terkesannya aku, aku berusaha mencari visualisasi petualangnnya yang berebntuk video  VHS ataupun DVD, pada setiap kesempatan jika sedang berada baik di toko buku maupun di perpustakaan, mataku selalu jelalatan mencari video tersebut. Untunglah beberapa minggu lalu, usahaku membuahkan hasil. Kutemukan video tersebut di perpustakaan kesayanganku. Film berdurasi sekitar tiga jam itu benar-benar mampu membiusku. Adegan demi adegan seperti yang tertuang di buku benar-benar nyata…!! Narasi ringan dan penuh humor khas si Palin, menambah poin keasyikan tersendiri. Durasi panjang tidak membuatku bosan, dan memang apa yang kudapatkan dari bukunya hampir mirip dengan visualisasinya.

Dear kokiers,

Misteri tentang ganasnya gurun pasir memang sudah banyak  diketahui oleh masyarakat luas. Misteri inilah yang mendorong si Michael Palin untuk membuktikan kebenarannya. Misteri Saharan walau kedengaran seram, namun tidak pernah mematahkan sema pengembara yang datang dari bebagai pelosok dunia yang merasa tertantang untuk menaklukkan padang pasir atau sahara. Telah banyak aku membaca informasi tentang hal ini  ditambah visualisasi lengkap dari video petualangan si Michael Palinlah yang akhirnya memutuskan untuk berbagi informasi ringan tentang mitos padang pasir.

Desert  dalam bahasa inggris, atau ‘deserto’  dalam bahasa Italia, atau ‘desert’ dalam bahasa Perancis atau ‘desierto’ dalam bahasa Spanyol dan ‘desertum’ dalam bahasa Latin, arti sebenarnya adalah  “an unpopulated place” walau tentu kenyataannya ada orang yang tinggal dan  menetap di gurun pasir. Pada kesempatan ini,  aku  Reef, kembali  berkolaborasi dengan mbakyu Scorties aka mbak Thia yang akan membagikan secuil pengalaman ringannya hidup di negara padang pasir.

Selamat membaca.

Scorties /Thia

Mendengar kata Padang pasir atau sebagian orang menyebutnya gurun sahara,  pikiran kita langsung tertuju kenegara Timur Tengah atau Afrika itu yg sudah  sangat kita kenal. Hal ini membuat saya kadang-kadang merenung. Negara yang  saya tempati ini selama puluhan tahun belakangan ini  (Saudi Arabia) begitu  tandusnya, gunung-gunung,  hamparan pasir, semua batu yang tidak memungkinkan  tumbuhnya penghijauan ataupun hutan rimba seperti di negara kita, tapi SANG  PENCIPTA begitu adilnya. Coba kita tengok, di negara tandus dan gersang ini  tertimbun kekayaan yg tiada tara dari tambang minyak sampai tambang emasnya  yg merupakan kekayaan negara ini, di-sela-sela batu cadas yg ada digunung  ini tumbuhlah pohon kaktus yg banyak tumbuh di kota Thaif.

Kota Thaif ini  udaranya sangat dingin melebihi puncak. Thaif walaupun dingin udaranya,  namun rata-rata gunungnya tetap gundul . Tanaman yang banyak tumbuh adalah  pohon kaktus tadi. Pohon ini termasuk tanaman liar, tumbuh subur dihiasi  bunga-bunga nan cantik. Saya sendiri baru tahu kalau kaktus ini ternyata  bisa berbuah dan buahnya bisa dimakan. Buah ini bergantungan  di pinggir-pinggir daunnya dan berduri halus. Orang Arab menamakan buah kaktus ini barsyuumi, konon buah kaktus ini  rasanya manis, dan banyak biji persis seperti biji jambu klutuk. Secara  kasat mata bisa dikatakan bahwa bentuk buah ini seperti buah mengkudu atau pace seperti kebanyakan orang Jawa menyebutnya.

Seperti di negara-negara Arab lainnya, di tempat kami tinggal yaitu kota Makkah,  memang banyak  terlihat padang pasir walau sekarang banyak perubahaan.  Kemajuan jaman  telah merubah sosok padang pasir menjadi padang nan mengkilap, bentangan  padang pasir telah berdiri perumahan real estate dan villa-villa  mewah dengan bermacam-macam arsitektur modern  beserta taman taman nan menawan. Sungguh jauh dari bayangan padang gurun nan tandus. Begitu pula  pantai-pantainya telah dibangun villa-villa sewaan yg selalu ramai diwaktu  liburan. Sekarang kita jarang melihat kemah-kemah berderet yang menghiasi  gurun pasir,  sewaktu liburan.

Zaman dulu, biasanya orang-orang disini  kalau mau memasuki bulan ramadhan banyak yang berkemah. Begitu juga dengan  kami, bersama-sama dengan seluruh keluarga suami. Biasanya 6 keluarga karena  kalau ramai asyiik, apalagi kita berkemahnya dipadang pasir. Kita membuat  dua kemah besar berdampingan, maksudnya laki-laki dan perempuan terpisah,  lengkap dengan WC yg agak jauh dari kemah juga terbuat dari terpal. Ada kejadian lucu tentang cerita berkemah ini. Yaitu pada suatu  sore saya kepingin pipis, saya sudah tahan-tahan, lha mengapa  demikian…waahhhhhhhh …. bukan apa-apa sih, buuuuuuuut duhai diluar tidak jauh dari tempat hajat, kaum lelaki sedang main bola….!!!!!

Kalau saya mau ke WC otomatis melewati mereka, yah….. karena saya sudah  gak tahan lagi, saya keluar tanpa melupakan pakaian kebesaran saya yaitu  abaya dan cadar, langsung saya laksanakan hajat saya. Malangnya, lagi  asyik-masyuk  berjongkok ria menikmati surga duniawi, dan hajat saya juga  belum tuntas , tanpa dinyana dan diduga, datang angin lumayan kencang,  memang sih  hari itu lagi banyak angin , dan olala….apa yang  terjadi…???? sang angin nakal tersebut tanpa dosa menerbangkan WC itu tanpa memperdulikan saya yg ada didalamnya, sedangkan saat itu saya tidak  ber-abaya……… karena abaya saya gantungkan. Woooooooowww bisa  dibayangkan keadaan saya saat itu yg bokongnya ke-mana-mana…ohhhhhhhh my  bare bottom was smiling innocently hahahahahaaa….. duh maluuuu banget, gak  bisa diterusin deh ceritanya selain saya dengar cekikikan orang-orang  yg  sedang main bola tadi, entahlah apa yang ada di benak mereka.  Mamamia…….!

Reef :

Padang pasir sahara yang maha luas yang terdapat di bumi ternyata mencakup  sepertiga wilayah bumi. Gurun merupakan daerah luas yang kering dan berpasir  karena rendahnya angka hujan di sahara. Suhu padang pasir yang pada siang  hari begitu menyengat dan bisa membuat otak mendidih, konon karena saking  panasnya, orang-orang gurun biasa memanggang roti hanya dengan dikubur di pasir dan roti akan matang dan hasilnya tidak kalah nikmat dari yang dibakar  di dalam oven, baunya yang semerbak harum akan terbawa angin kemana-mana dan membelai hidung para pelancong yang kebetulan lewat.

Namun….. bila malam  menjelang dan kegelapan semakin tua, temperatur akan drop sangat dingin, hal  ini dikarenakan rendahnya kelembaban udara. Di Australia sendiri hamparan  gurun pasir sangat mendominasi benua. Rasanya gurun pasir Australia ataupun  yang di Afrika atau di Timur tengah tiada banyak perbedaan. Tanah kering dan jarang terdapat tanaman, dan kalau toch ada maka lebih banyak adalah jenis  kaktus atau semak belukar seperti yang telah dikemukakan oleh mbakyu Scorties aka mabk Thia.

Di Sahara animal kingdom yang biasa merajai adalah : heynas,  gizzele, kalajengking, ular, anjing liar dan tentu tidak ketinggalan sang  unta yang merupakan ratu padang pasir yang pinggulnya senantiasa megal-megol  sexy, dan punggung yang sarat muatan. Sungguh membayangkan suasana seperti  inipun sudah mampu menerbangkan fantasi tersendiri.  Walau kelihatannya padang pasir merupakan tempat yang sangat tidak  menjanjikan namun pada kenyataannya, banyak orang di Timur Tengah, Afrika  dan sedikit masyarakat asli Australia yang sangat enjoy menetap di luasnya  gurun pasir  yang masih asli lengkap dengan ketandusan, kegersangan,  dan  yang penuh misteri.

Salah satu suku yang terkenal sebagai penduduk tetap  gurun adalah suku Bedouin, suku ini terkenal tangguh dan benar-benar  penakluk gurun. Di Afrika, seperti Somalia, Sudan, Kenya dan lain-lain juga  terdapat suku-suku yang menetap di desa-desa di tengah gurun pasir  Membaca buku yang menceritakan  kehidupan masyarakat gurun pasir seolah  membawa angan kita ke suatu masa beratus-ratus abad lalu, kental dengan  mitos-mitos yang berkembang pula di masyarakat gurun. Penduduk gurun pasir  tentu sangat kuat-kuat, ototnya bak kawat dan tulangnya serasa besi. Manusia  tangguh yang tahan banting menerjang ganasnya alam. Mata pencaharian orang  gurun biasanya adalah penggembala ternak, baik domba ataupun unta.

Mereka umumnya tinggal di tenda-tenda yang dibuat dari kulit binatang. Sebut saja bagaimana vitalnya kehadiran unta di sahara, dari daging sampai kotorannya  bisa dimanfaatkan. Lepas dari kehidupan manusianya, konon, bagi orang awam yang tidak pernah ke gurun pasir, akan mengalami hal-hal yang dianggap tidak  masuk akal, suara angin yang menderu menyeramkan bak suara raksasa, badai  gurun, panas yang sangat menyengat yang kadang-kadang bisa menyebabkan  halusinasi, tipuan mata dengan munculnya fatamorgana, dari jauh nampak oase  yang ijo royo-royo, namun kala didekati ternyata gurun datar yang tandus,  atau yang dari jauh nampak seperti danau yang menentramkan penuh janji akan  segarnya air, ketika didekati hanyalah pasir yang menghampar, dan masih  banyak lagi misteri-misteri gurun.

Mengikuti kisah perjalanan  di padang pasir, baik gurun di Afrika, Timur  Tengah, Gurun Gobi, sungguh menegangkan sekaligus sebuah tantangan yang mengasyikkan.  Selanjutnya, seperti pengalaman mbakyu Thia tentang  ber-holiday di gurun pasir, dari beberapa buku yang pernah kubaca, memang jika musim liburan tiba, sebagian masyarakat Arab atau orang kaya dari Dubai, Abudhabi, Saudi Arabia dan lain-lain gemar ber-camping ria.

Sekedar informasi, aku pernah membaca kisah seorang wanita jurnalis asal Inggris yang bersahabat dengan salahs seorang keluarga Sheik yang kaya raya yang berasal dari Dubai, buku tersebut jika pembaca ada yang berminat berjudul jika tak salah ingat adalah :  A mother without a mask, yang bercerita tentang salah satu suku di Arabia yang mana budaya setempat mengharuskan kaum wanita mengenaikan mask atau semacam topeng yang menutup seluruh muka kecuali mata (bener-bener seperti topeng dan bukan hanya sekedar cadar) . Dan seperti Mbak Thia ungkapkan, keluarga Sheik kaya ini selalu mengadakan camping pada saat-saat liburan. Camping  mereka bukan camping seperti kita jaman ikut pramuka tapi benar-benar wah. Di dalam buku berjudul di atas tersebut diceritakan pula  bagaimana keluarga Sheik yang kaya raya tersebut ber-camping dan camping mereka ibaratnya barfasilitas hotel bintang lima………! Lengkap dengan AC dan toilet serta banquet mewah.

Sementara itu,

Mitos angkernya  gurun pasir lengkap dengan ganasnya camel spider yang konon sangat mematikan, walau pada kenyataanya spider jenis ini hanya sangat mematikan bagi binatang seperti unta, sampai mitos kerajaan Jin dengan bala tentaranya yang super nggenggirisi dan yang suka menganggu para pelancong, ataupun cerita para bandit yang liar yang tidak segan membunuh korbannya, banyak kisah tentang bandit padang pasir ini.

Di Somalia atau Ethiopia, ada sekelompok bandit yang sangat terkenal yang tidak segan-segan membunuh korbannya yang kemudian mayatnya ditinggal begitu saja membusuk di tengah gurun. Ada lagi yang tidak kalah seram yaitu tawa heynas yang sedang kelaparan, ular-ular yang penuh racun,  dan berbagai cerita hantu, semakin membuat hati penasaran siapa saja yang mempunyai jiwa petualang ingin membuktikan kebenarannya.  Semakin berbahaya akan semakin challenging.

About me…??? Ah..seandainya, berkesempatan  mengunjungi tanah Arab, suatu hari kelak, rasanya tak akan kulewatkan  suasana tinggal di tenda suku bedouin yang ramah-ramah yang tidak  segan-segan menyembelih bayi unta atau seekor kambing untuk menjadi hidangan  maknyuss untuk menjamu para tamunya, atau hanya sekedar duduk manis di  tengah gurun menikmati sunrise dan sunset sambil menghirup secangkir kopi  dan roti hangat  yang dibakar di dalam gundukan pasir dan bersaus olive oil,  dan drinking sweet water yang memang merupakan ciri khas air sumur di padang pasir, konon Unta hanya minum sweet water saja, tidak heran di gurun-gurun pasir banyak ditemukan sumur-sumur dalam yang airnya bener-bener jernih dan terasa manis. Atau..barangkali sekedar leyeh-leyeh sambil mendengarakan irama padang pasir yang mendayu-ndayu menerbangkan sukma dan membuat mata merem melek. One day maybe….sebelum semua gurun  pasir berubah menjadi villa-villa mewah dan hutan gedung bertingkat…..yeaaaaaaaaah One day…..

Published in: on Maret 11, 2010 at 4:35 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://pu3p3rm4t4.wordpress.com/2010/03/11/misteri-gurun-sahara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: